YBHA Aceh Mengutuk Pelaku Pembacokan dan Mengapresiasi Kinerja Kepolisian

Foto ilustrasi Tawuran. ANTARAN/Ilustrasi/net/Parahyangan Post.
Bagikan:

“Kami mengutuk keras aksi teror dan pembacokan menggunakan senjata tajam. Peristiwa itu sudah sangat meresahkan masyarakat. Mirisnya, para pelaku masih remaja, namun jika terbukti mesti dihukum berat,” ujar Nurmaida Sari, SH.

Jurnalis : Sudirman Hamid

ANTARAN|BANDA ACEH – Yayasan Bantuan Hukum Anak (YBHA) Provinsi Aceh mengutuk keras pelaku pembacokan di Warkop Benk Kupi, Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh dan mengapresiasi kinerja pihak Kepolisian yang cepat meringkus para pelaku, Minggu (21/1/2024) kemarin.

Pernyataan tersebut disampaikan Staf advokasi YBHA Aceh, Nurmaida Sari, SH melalui rilis yang dikirim ke antaran, Minggu (21/1/2024) malam. Pihaknya mengutuk dan menyayangkan aksi brutal dengan senjata tajam yang marak terjadi selama ini sebagaimana menyebar informasi di media sosial.

“Kami mengutuk keras aksi teror dan pembacokan menggunakan senjata tajam. Peristiwa itu sudah sangat meresahkan masyarakat. Mirisnya, para pelaku masih remaja, namun jika terbukti mesti dihukum berat,” ujar Nurmaida Sari, SH.

Seiring meluapkan kutukannya terhadap pelaku, YBHA Aceh juga mengapresiasi kecekatan dan kecepatan personel Polsek Syiah Kuala dan Polresta Banda Aceh serta Polda Aceh menangkap para pelaku yang diduga melakukan tindakan bringas.

Baca Juga:  Caleg NasDem di Abdya Segera Dilantik Jadi Anggota DPRK

“Tidak berlebihan, jika YBHA mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada jajaran kepolisian dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat. Dimana pasca kejadian, polisi sudah menangkap dan mengamankan oknum yang diduga pelaku,” ucap Nurmaida Sari.

Mirisnya, papar Nurmaida sari, rata-rata pelaku masih berusia remaja bahkan satu orang diantaranya masih dibawah umur. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan menjadi dilema di tengah-tengah masyarakat.

“Seharusnya usia remaja lebih mengutamakan belajar dan menekuni pendidikan serta meniru hal-hal yang baik, akan tetapi justru terlibat dalam pusaran meresahkan warga. Persoalan ini menjadi tantangan serius bagi orang tua dan penegak hukum,” imbuhnya.

Menurut YBHA, peran penegak hukum diuji dengan peristiwa ini. Disatu sisi pelaku yang masih remaja mesti mesti mendapatkan perlindungan hukum. Akan tetapi perbuatan pelaku tidak dapat dibenarkan demi tegaknya supremasi hukum.

Penyidik mesti transparan dan terbuka dalam mengabari informasi kepada masyarakat tentang motif dan latar belakang terjadi dan melakukan perbuatan tersebut.

Baca Juga:  KIP Aceh Selatan Buka Pendaftaran Caleg Pemilu 2024

Lebih lanjut Nurmaida Sari memaparkan, masih segar dalam ingatan kita, tanggal 16 Januari 2024 kemarin, dua orang Wanita dibegal dengan senjata tajam di kawasan Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya.

Kemudian baru-baru ini kita juga dikejutkan dengan sejumlah remaja berpose menggunakan senjata tajam di depan Kantor Bupati Aceh Utara untuk kepentingan konten.

“Kejadian-kejadian dimaksud tentu tidak dapat dibiarkan terus berulang dan terjadi di bumi Aceh. Harapan kita semua, harus ada tindakan nyata dari aparat penegak hukum dan masyarakat sekitar. Semoga peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di Aceh dan seluruh Indonesia pada umumnya,” tandas Nurmaida.

Berlatar belakang rentetan peristiwa berdarah dan kekerasan, YBHA menghimbau masyarakat gampong ikut berperan, peka dan mengawasi gerak gerik gerombolan remaja yang berkumpul bersama di sekitaran gampong. Tujuannya, agar reaksi dan potensi meresahkan warga masyarakat dapat diantisipasi sedini mungkin.

Tidak bisa dipungkiri dan harus kita akui, usia remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Pendirian para remaja mudah terpengaruhi, terpicu dan terpancing emosi untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Baca Juga:  Kejari Abdya Eksekusi 8 Pelanggar Qanun Jinayat, PR Terima 108 Kali Cambuk

Menyikapi problema dan dilema ini, peranan orangtua harus benar-benar muncul dan menjadi benteng yang kokoh. Komunikasi antar anak dengan orangtua mesti terus dibangun, potensi kenakalan remaja dapat dicegah dan diminimalisir.

“Solusinya, pengawalan aktivitas anak harus ditingkatkan. Orang tua mesti tahu dan mendeteksi pergaulan dan lokasi anak berada. Putra-putri harus dibekali pengetahuan agama dan tidak boleh toleran jika ada anak-anak kita terlibat dalam sejumlah aktivitas anti sosial yang menyeret ke perbuatan melanggar aturan dan hukum,” himbau advokasi YBHA Aceh.

Akhir pesannya, untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk, YBHA tidak pernah bosan menghimbau segenap masyarakat untuk mengawasi dan melihat anak dan remaja secara baik dan terarah, hal ini merupakan tanggungjawab kita bersama.

“Mari kita hilangkan image dan stigma, orang lain itu bukan anak kita. Menjaga kerukunan, ketertiban, keamanan dan kenyamanan lingkungan bukan hanya tugas penegak hukum tetapi kewajiban kita semua sebagai warga negara,” pungkas Nurmaida Sari menutup tulisnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.