Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melakukan akuisisi aset di Makkah yang mencakup hotel Novotel Thakher dan 14 kavling lahan, dengan perkiraan nilai transaksi sebesar 2 miliar riyal Saudi atau sekitar Rp9,5 triliun. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan kualitas layanan dan menekan biaya penyelenggaraan haji bagi jemaah Indonesia, kata sejumlah pihak terkait.
Harapan bagi penurunan biaya dan perbaikan akomodasi
Ketua Komnas Haji dan Umrah, Mustolih Siradj, menyatakan investasi tersebut harus memberi manfaat langsung kepada jemaah, khususnya dalam hal kualitas akomodasi, efisiensi biaya, dan kepastian tempat tinggal selama musim haji dan umrah. Pernyataan ini dikutip dari laporan Bisnis pada Minggu, 25 Oktober 2026.
“Investasi ini harus menjadi fondasi bagi transformasi pelayanan haji Indonesia yang lebih modern dan berorientasi pada kepentingan jemaah sehingga mengurangi pembiayaan.”
Menurut Mustolih, akuisisi hotel dan pengembangan lahan di Makkah merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyelenggaraan layanan haji dan umrah. Ia berharap investasi itu dapat membangun ekosistem layanan yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan akomodasi hingga layanan pendukung lainnya.
Biaya akomodasi dan angka acuan
Perhatian terhadap biaya akomodasi di Tanah Suci menjadi salah satu alasan di balik langkah ini. Data yang dikutip menunjukkan bahwa pada 2026 biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) jemaah Indonesia tercatat sebesar Rp54,19 juta, dengan komponen biaya akomodasi di Makkah mencapai Rp14,1 juta.
Di samping itu, kebutuhan infrastruktur yang berkelanjutan dianggap semakin penting mengingat besarnya jumlah jemaah. Dalam catatan yang disebutkan, kuota haji untuk 1448 H atau 2027 M diperkirakan mencapai 221.000 orang, sementara jumlah jemaah umrah Indonesia disebut mencapai sekitar 2 juta orang setiap tahun.
Potensi integrasi layanan dan kendala saat ini
Selama ini, penyelenggaraan berbagai layanan haji dan umrah di Arab Saudi sangat tergantung pada mitra lokal (syarikah) yang menyediakan akomodasi, transportasi, konsumsi, dan layanan kesehatan. Dengan kepemilikan atau pengelolaan aset oleh badan usaha Indonesia, diharapkan ada ruang untuk mengefisiensikan biaya dan meningkatkan kepastian layanan bagi jemaah.
- Aset yang diakuisisi: hotel Novotel Thakher (1.461 kamar) dan 14 kavling lahan untuk pengembangan.
- Perkiraan nilai transaksi: 2 miliar riyal Saudi (sekitar Rp9,5 triliun).
- Biaya haji 2026 (Bipih): Rp54,19 juta; komponen akomodasi di Makkah Rp14,1 juta.
Para pengamat dan pihak terkait menilai bahwa keberhasilan investasi ini dalam menurunkan biaya haji bergantung pada model bisnis, tata kelola, serta sinergi dengan penyelenggara haji resmi. Selain itu, aspek regulasi, perizinan, dan hubungan dengan mitra lokal Saudi juga menjadi faktor yang menentukan manfaat jangka panjang bagi jemaah Indonesia.
| Aspek | Angka/ketentuan |
|---|---|
| Nilai akuisisi | 2 miliar riyal Saudi (~Rp9,5 triliun) |
| Kapasitas hotel Novotel Thakher | 1.461 kamar |
| Bipih 2026 | Rp54,19 juta |
| Komponen akomodasi Makkah | Rp14,1 juta |
| Perkiraan kuota haji 1448 H / 2027 M | 221.000 jemaah |