Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengajak perajin batik menjaga keberlanjutan tradisi membatik sekaligus mengembangkan praktik yang ramah lingkungan. Pernyataan itu disampaikan Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab pada pembukaan pameran kolaborasi Museum Batik dan Green Batik, Selasa, 27 Oktober 2026.
Pameran perkenalkan teknologi pengolahan limbah
Pameran bertajuk “Menjaga Tradisi, Merangkul Inovasi” berlangsung di Museum Batik Kota Pekalongan dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan kain batik, tetapi juga menonjolkan praktik membatik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, termasuk teknologi pengolahan limbah cair batik.
Menurut keterangan yang disiarkan ANTARA, sebanyak 14 pembatik terlibat dalam pameran yang mengusung konsep green batik tersebut. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mini yang dirancang untuk mengolah limbah cair batik agar dapat dimanfaatkan kembali sesuai peruntukannya.
“Kami berharap tradisi batik tetap terjaga, inovasi terus berkembang, dan pencemaran akibat limbah batik dapat dikurangi.”
— Balgis Diab, Wakil Wali Kota Pekalongan, dikutip dari ANTARA.
Harapannya: replikasi teknologi dan IPAL komunal
Balgis mengatakan IPAL mini yang diperkenalkan melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda diharapkan menjadi proyek percontohan. Pemerintah daerah akan mengkaji keberlanjutan dan peluang replikasi teknologi tersebut agar semakin banyak pembatik dapat memanfaatkannya.
Dia menambahkan, upaya ini juga dimaksudkan untuk menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar sambil mempertahankan produktivitas dan pendapatan para pembatik.
Inisiatif yang dipamerkan
Dalam pameran tersebut pengunjung dapat menemukan berbagai elemen yang menggabungkan tradisi dan inovasi, antara lain:
- Pameran kain batik karya perajin lokal;
- Demonstrasi teknik membatik yang mempertimbangkan aspek lingkungan;
- Pemaparan teknologi pengolahan limbah cair, termasuk IPAL mini;
- Diskusi tentang peluang replikasi IPAL komunal untuk mendukung produksi batik yang lebih bersih.
Balgis menegaskan pemerintah daerah akan menilai potensi pengembangan teknologi ini sehingga para pembatik dapat memiliki fasilitas pengolahan limbah minimal, misalnya IPAL komunal. Dengan demikian, menurut dia, sungai tetap bersih sementara pembatik tetap produktif dan mampu meningkatkan pendapatan ekonominya.
Kerja sama internasional menjadi bagian dari upaya menjadikan inovasi tersebut dapat dijadikan contoh. Pernyataan ANTARA menyebutkan bahwa sumber dana atau bentuk kerja sama teknis datang dari mitra di Belanda, meski rincian lebih jauh mengenai skema pendanaan atau implementasi jangka panjang belum dirinci dalam keterangan resmi yang dipublikasikan.
Pameran kolaborasi Museum Batik dengan Green Batik di Pekalongan menjadi salah satu langkah praktis dalam mempertemukan pelestarian tradisi dan kebutuhan pengelolaan lingkungan modern. Kegiatan ini juga memberi peluang bagi pembatik untuk menampilkan inovasi sambil tetap mengakar pada warisan budaya yang menjadi ciri Kota Pekalongan sebagai pusat batik di Indonesia.
Selain pameran visual, penyelenggara menyusun program pendampingan dan kajian teknis untuk mendukung replikasi teknologi di tingkat kelompok pembatik dan potensi penerapan IPAL komunal yang lebih luas.