Bandar Lampung — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan akan menelusuri asal api kebakaran hutan dan lahan yang melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, setelah tim pendamping menemukan titik api yang berdekatan dengan permukiman warga, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Data satelit dan luasan yang belum padam
Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi, menyampaikan bahwa pemantauan satelit per pukul 06.04 WIB menunjukkan terdapat 110 titik api di wilayah Provinsi Lampung. Menurut laporan tim lapangan, masih ada puluhan hektare area yang belum berhasil dipadamkan.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Titik api (data satelit, 06.04 WIB) | 110 titik |
| Luasan belum padam (laporan tim) | sekitar 40 hektare |
| Luasan yang dipadam sehari sebelumnya | 10,2 hektare |
| Perkiraan luasan tambahan belum padam (BNPB) | 68 hektare |
Penanganan darat dan udara
Sejak kebakaran berlangsung pada 22 September 2026, petugas gabungan melakukan operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara. Tim darat terdiri atas pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, dan masyarakat setempat. Untuk operasi udara, BNPB mengerahkan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L yang melakukan dua kali penerbangan untuk menjatuhkan air ke titik-titik api.
- Penggunaan pompa dan selang hampir tiga kilometer untuk mencapai lokasi sulit.
- Operasi water bombing oleh helikopter Sikorsky UH-60L.
- Koordinasi antarinstansi: TNWK, BNPB, TNI, Polri, BPBD, dan mitra konservasi.
Evaluasi penyebab dan kawasan permukiman
Kristomei menekankan pentingnya menelaah apakah kebakaran murni karena faktor alam atau akibat aktivitas manusia. Titik api yang muncul dekat permukiman menjadi perhatian khusus tim evaluasi, yang akan melibatkan aparat kepolisian, TNI, masyarakat peduli api, dan unsur terkait lain dalam proses klarifikasi penyebab.
Menurut catatan tim pendamping BNPB, hingga Sabtu kebakaran yang sudah berlangsung berbulan-bulan tersebut masih menyisakan sekitar 40 hektare yang belum padam. Pada hari sebelumnya, tim berhasil memadamkan sekitar 10,2 hektare lahan.
Peralatan dan langkah lanjutan
BNPB melaporkan efektivitas penggunaan pompa dan selang panjang untuk menjangkau titik api yang sulit diakses. Kristomei menyatakan pihaknya akan menambah peralatan serupa apabila metode tersebut terbukti memperluas jangkauan pemadaman.
Selain itu, penanganan karhutla di TNWK berlangsung bersamaan dengan upaya penyelamatan kawasan konservasi dan perlindungan terhadap permukiman warga yang berdekatan. Sampai laporan ini disusun, BNPB masih melakukan pemantauan dan operasi pemadaman bersama unsur terkait.