Yogyakarta — Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar bencana lingkungan lokal tetapi bagian dari krisis ekologi global yang mengancam keanekaragaman hayati dan stabilitas biosfer, kata Dekan Fakultas Biologi UGM Prof. Dr. Eko Agus Suyono dalam keterangan tertulis yang diterima Senin, 27 Oktober 2026.
Karhutla sebagai tantangan ilmiah dan ekologis
UGM menilai karhutla merusak fungsi ekosistem, termasuk ekosistem gambut yang memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim global. Fakultas menegaskan bahwa dampak kebakaran melampaui kehilangan vegetasi: struktur, fungsi, dan kesinambungan informasi ekologis dalam ekosistem juga terganggu sehingga hilang 'laboratorium alam' yang penting bagi penelitian dan konservasi.
“Agar kebakaran serupa tidak terulang, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dan regulasi mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara permanen, bukan hanya respons saat darurat.”
Rekomendasi kebijakan dan teknologi
Berdasarkan analisis akademik, UGM mendorong sejumlah langkah kebijakan dan teknis yang harus dipertimbangkan pemerintah dan otoritas terkait, antara lain penataan ulang tata kelola lahan, penegakan regulasi pencegahan kebakaran, serta alokasi anggaran untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.
- Penguatan regulasi pencegahan kebakaran yang transparan dan akuntabel.
- Pengembangan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan data ilmiah terbuka (open science).
- Pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut untuk mengurangi risiko kebakaran.
- Penguatan kelembagaan masyarakat peduli api dan pemberian insentif bagi praktik tanpa bakar.
UGM juga menyoroti kebutuhan alokasi anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendukung upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, serta kejelasan kewenangan dan koordinasi lintas sektor dari tingkat pusat hingga desa.
Dampak ekologis jangka panjang
Dalam keterangannya, Fakultas Biologi UGM menekankan bahwa kebakaran dengan suhu ekstrem dapat merusak mikrobioma tanah, termasuk bakteri pengikat nitrogen dan jamur mikoriza, yang berkontribusi pada penurunan kesuburan tanah dan pemulihan vegetasi jangka panjang.
| Masalah | Rekomendasi UGM |
|---|---|
| Kerusakan ekosistem gambut | Rewetting dan perlindungan hukum terhadap ekosistem gambut |
| Kelembagaan lemah | Penguatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi lintas sektoral |
| Deteksi dini kebakaran | Sistem peringatan dini berbasis data iklim dan AI |
Fakultas juga menyerukan agar data ilmiah dibuat terbuka untuk mendukung pengambilan kebijakan yang berbasis bukti dan memudahkan koordinasi antarpeneliti, pembuat kebijakan, dan masyarakat.
Rekomendasi UGM mencerminkan kekhawatiran akademisi bahwa respons ad-hoc saat kebakaran terjadi tidak cukup untuk mencegah kerusakan ekologis yang sistemik. Dengan pendekatan restorasi berbasis sains, universitas berharap negara dapat mengurangi frekuensi dan intensitas karhutla serta mempercepat pemulihan ekosistem yang telah terdampak.